Pentingnya Adab Sebelum Ilmu

Pentingnya adab sebelum ilmu bagi siapapun yang berstatus pelajar, santri, mahasiswa, pembelajar di strata berapa pun. Sebab tanpa adab maka tak akan pernah sampai kepada ilmu yang benar. 

Membahas topik adab sebelum ilmu ini saya membuka kembali kitab lama zaman nyantri di pesantren dahulu. Kitab kuning populer bagi pemula mengenai adab menuntut ilmu, Ta'limul Muta'allim karya ulama besar dari Arab, Syeikh Burhanuddin Az Zarnuji.

Dulu saya pelajari di kelas I'dadiy (setara kelas 1) di Pondok Pesantren Aji Mahasiswa Al Muhsin, Krapyak Wetan, Yogyakarta. Pagi dan malam belajar kitab kuning, siang hingga sore kuliah di UGM. Mudah-mudahan sebagai ikhtiar meraih ilmu pengetahuan duniawi namun tak melupakan ilmu agama untuk kebaikan dunia dan akhirat.


adab sebelum ilmu


Kitab tersohor ini dialihbahasakan oleh KH. Aliy As'ad (Alm.) pengasuh Pondok Pesantren Nailul Ula, Sleman, Yogyakarta. Meski di kelas belajar menerjemahkan tulisan arab gundul Arab Pegon (Jawa), namun saya merasa waktu belajar secara sorogan (belajar langsung dengan Pak Kyai) sangat kurang. 

Ditambah mesti mengerjakan tugas-tugas kuliah pada malam harinya. Akhirnya saat main ke toko buku saya melihat ada buku terjemahan Ta'lim Muta'allim ini di lapak buku. Mata saya berbinar melihatnya, langsung saya beli dan simpan hingga kini. Merasa ketemu harta karun!

Adab Ibarat Jalan Menuju Ilmu

Menurut KH. Aliy As'ad dalam komentarnya di dalam buku terjemahan buku ini, adab itu ibarat jalan menuju ilmu pengetahuan. Berbeda dengan yang saya ketahui selama ini, al adabu fauqol 'ilm, adab itu di atas ilmu atau adab sebelum ilmu. 
Adab itu Di Atas Ilmu

Dikisahkan bahwa sahabat sekaligus menantu Rasulullah SAW, Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah (KW), suatu waktu telat salat berjamaah di masjid. Pasalnya ia tidak ingin mendahului seorang tua renta yang berjalan lambat di depannya. 

Ternyata setelah tiba di depan masjid kakek tua itu tidak berbelok ke baitullah itu, namun lurus saja. Belakangan diketahui bahwa ia penganut Nasrani. Qadarullah, Ali tidak terlambat salat berjamaah, imam tetap rukuk dan matahari tidak beranjak dari tempatnya. 

Demikianlah penghormatan terhadap adab, hingga Imam Malik Rahimahullah mengatakan:
Orang berilmu belum tentu beradab, namun orang beradab sudah pasti berilmu

Menyambung penjelasan dalam buku Bimbingan Bagi Para Penuntut Ilmu, adab adalah jalan kepada ilmu.  


Keliru Mengambil Jalan Maka Keliru Tujuan

Jika kamu ingin ke Medan naik pesawat terbang dari Jakarta, namun harus transit di negara Malaysia, lalu setelah itu naik pesawat berikutnya ke Medan, itu sudah benar. Hanya saja untuk sampai ke kota di dalam negeri sendiri masa' sih harus singgah keluar negeri dulu.

Rutenya bisa menempuh langsung pesawat Jakarta-Medan. Namun kedua-duanya bisa mengantarkan kamu ke kota Medan, kan. Sudah benar. Tetapi jika kamu membeli tiket ke Makassar, maka jalan yang kamu ambil keliru. Kamu tetap berhasil menaiki pesawat terbang, sampai ke kota lain, namun itu bukan Medan. Maka tujuan tidak tercapai. Kira-kira begitu analoginya.

Kuasai dengan baik jalan menuju pada kesuksesan orang-orang berilmu barulah menuntut ilmunya. Jika tidak, alamat diri akan tersesat, tak pernah sampai ke tujuan.

Maka menempuh jalan yang tepat adalah suatu keharusan dalam menuntut ilmu. Jangan abaikan jalan jika ingin tiba di tujuan yang diinginkan sesuai harapan. Ingin meraih doktor namun tak kunjung menapaki jalan menuju ke sana, maka yang ada hanyalah angan-angan belaka.

Bagaikan Keledai Memikul Beban

Perumpamaan orang yang berilmu namun tidak punya adab bagaikan keledai memikul beban berat di punggungnya. Ia hanya sebagai penanggung beratnya barang-barang di punggung tanpa memperoleh manfaat apapun bagi otaknya. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam Alquran Surat Al Jumu'ah (62) ayat 5, meski tidak sama persis kalimatnya.

Ahli ilmu yang berjilid-jilid kitab dalam kepalanya namun tiada adab tertanam dalam sikap dan lisannya, maka sia-sialah semuanya. Malah menyeret pada kehinaan.  

Ada pesan ibunda Malik bin Anas ketika pamit akan pergi menuntut ilmu kepada Rabi'atur Ra'yi, seorang cendekiawan ternama di masa itu, yang menjadi tujuan utama para penuntut ilmu di zamannya.

"Nak, jika kau sudah bertemu dengan Rabi'atur Ra'yi, pelajari adabnya. Jika tak kau jumpai adab dalam dirinya, maka tidak perlu kau buang-buang waktu belajar padanya."

Sungguh, tak akan bermanfaat ilmu setinggi apapun, jika tidak ada adab di dalamnya. Parahnya lagi jika ilmu hanya setitik nila plus tiada adab. 

Hal-hal ini harus diperhatikan dalam adab menuntut ilmu:

  1. Niat menuntut ilmu
  2. Memilih teman yang rajin
  3. Tabah dalam belajar
  4. Memuliakan ilmu dan guru yang mengajarnya
  5. Sungguh-sungguh dalam meraih cita-cita
  6. Belajar secara terus menerus
  7. Mengorbankan sebagian harta untuk meraih ilmu
  8. Mengurani makan untuk belajaryang lebih efektif
  9. Menghindari perdebatan tanpa ujung
  10. Menguatkan hafalan dan pemahaman

Sebenarnya masih banyak lagi poin-poin yang bisa disarikan dari kitab Ta'limum Muta'allim, namun biarlah yang sedikit ini menjadi pengingat saya untuk teguh di jalan yang tepat menuntut ilmu. 

Kesimpulan

Pentingnya adab sebelum ilmu sangat berpengaruh dalam kesuksesan seorang pembelajar. Adab itu ibarat jalan menuju sukses. Jika adabmu baik maka kau akan sampai di tujuan yang benar sebagaimana yang dicita-citakan.

Jangan berhenti belajar, teruslah berenang di samudera keilmuan hingga tiba ke tepi impian orang-orang berilmu sekaligus berakhlak.

Salam pembelajar

















Usir Insecure Dengan Melebur

Usir Insecure Dengan Melebur - Menjalani kuliah S3 setiap pekannya memberikan suatu semangat tersendiri bagi kami sekelas khususnya saya. Perkuliahan dijadwalkan prodi diadakan setiap hari Jumat dan Sabtu. Mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.

Kuliah diadakan secara tatap maya atau virtual meeting dengan platform Zoom yang difasilitasi PDIH (Program Doktor Ilmu Hukum). Tantangannya menyesuaikan jam dengan jam supersibuknya para profesor adalah jam kuliah. Kadang pas sesuai roster, kadang meleset, bahkan tidak masuk.

Ada yang menggeser jam jadi pukul 14.00 WIB, ke pukul 17.00 WIB hingga di sesi terakhir jam sembilan malam. Alhamdulillah suami dan anak-anak saya bisa memahami kondisi ini. 

Mereka memberikan waktu untuk saya, dengan kesibukan terus menerus menatap layar monitor laptop, suatu waktu terdengar mengajukan pertanyaan pada sang profesor, di lain waktu menjawab pertanyaan profesor dan teman-teman.

pengalaman kuliah S3
Zoom kelas S3 Ilmu Hukum angkatan 2021 / dokpri


Teman Dari Berbagai Latar Belakang Profesi

Kuliah S3 Hukum sudah pasti teman-temannya gabungan antara akademisi hukum dengan praktisi hukum. Ada dosen Fakultas Hukum seperti saya, advokat/penasehat hukum/pengacara/kuasa hukum/lawyer, jaksa, hakim, dan notaris.

Kami semua disatukan dalam satu kelas bernama S3 Hukum Universitas Sumatera Utara, salah satu PTN favorit di luar Jawa, khususnya di Pulau Sumatra. 

Apakah saya insecure, sebenarnya ada sedikit rasa itu. Saya yang 18 tahun lalu gagal ujian CPNS Cakim (Calon Hakim) Peradilan Umum, pernah juga berniat mengikuti seleksi ujian Kejaksaan RI, kini berinteraksi dengan teman-teman berlatar belakang profesi yang saya gagal meraihnya.

Kendati demikian sebelum masuk kelas S3 ini pun saya sudah berhubungan dengan teman-teman praktisi ini. Riset saya pada tahun 2019 melibatkan para praktisi, seperti hakim, dan jaksa. Rekan-rekan S2 11 tahun yang lalu juga terdiri dari hakim dan jaksa, bedanya mereka dulu hakim dan jaksa baru masuk atau baru lulus di profesinya masing-masing.

Kalau sekarang, di kelas S3, ada Kejari (Kepala Kejaksaan Negeri) suatu daerah turut menjadi mahasiswa S3 bareng saya, Asisten Intel Kejaksaan Tinggi, hakim di suatu Pengadilan Negeri, advokat, Ketua INI (Ikatan Notaris Indonesia) Provinsi, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) kota, Kanitreskrim Polresta, anggota KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) Provinsi, Kabid. Pembinaan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan (PKPA) Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Kemenkeu Provinsi, ada 2 orang dosen PTN itu sendiri dan dosen-dosen PTS di kota saya. 

Semuanya 28 orang, ditakdirkan jadi satu kelas dengan niat, maksud, dan tujuan yang sama, mencapai gelar akademik tertinggi, doktor. Kalau jabatan akademik tertinggi namanya profesor.

Usir Insecure dengan Melebur

Insecure adalah perasaan tidak percaya diri, merasa minder dan kalah dari orang lain. Penyebabnya bisa karena pola asuh keluarga, sering disalahkan, dianggap tidak becus dalam melakukan sesuatu, hingga karena terlampau bersikap perfeksionis.

Jika dikontekstualisasikan ke perkuliahan S3 saya saat ini. Alhamdulillah so far seiring berjalannya waktu sedikit rasa insecure itu berangsur-angsur hilang bagaikan titik air menetes di padang tandus. Mengapa saya sedikit banyak bisa dikatakan telah mampu mengusir insecure yang di awal-awal masa studi sempat menghampiri?

Berikut Alasannya:

1. Saya sendiri sudah bisa disebut dosen yang bukan junior lagi, dikategorikan dosen tua juga belum sih, masih 40 pas. Namun kalau disebut dosen muda sudah tidak bisa lagi. Bukan karena usia semata, tetapi karena jabatan fungsional sudah berada di Lektor, dengan pangkat golongan ruang, Penata Tingkat I (III/d).

Kalau di kepolisian saya berada di posisi perwira menengah dengan pangkat kolonel. Harusnya saya sudah naik ke pangkat Pembina IV/a setara dengan Komisaris Besar Polisi. Pangkat Lektor saya peroleh sejak 2011 lalu, wah sudah lama ya.

2. Kami semuanya melebur satu sama lain. Dengan menundukkan diri jadi mahasiswa lagi di jenjang S3 ini, meninggalkan pangkat dan jabatan di luar kampus. Sehebat apapun di luar sana, ketika jadi calon doktor, harus mengikuti semua aturan yang telah ditetapkan prodi. 

Kami semua kembali menjadi orang-orang bodoh yang haus ilmu pengetahuan khususnya keilmuan di bidang hukum. Sapaannya pun "abang" dan "kakak" tidak ada pak bos, bu kepala, pak ketua, bu dosen, dan bu hakim. 

Prof. Hikmahanto Juwana FH UI
Saat menyimak kuliah Prof. Hikmahanto Juwana dari FH UI

Tak heran ada anggapan, ketika kuliah lagi orang-orang akan kembali menjadi muda. Karena jadi merasa belum ada apa-apanya dibandingkan dengan keilmuan para profesor yang mengajar.

3. Saya proaktif mengambil peran. Ketika pada tolak-tolakan amanah menjadi bendahara kelas, dan ada yang menunjuk saya, bismillah saya terima. Dengan membantu ketua dan sekretaris kelas, saya merasa berkontribusi dan update terus dengan kondisi perkuliahan.

Semester 2 ini kami dikelompokkan ke kelas-kelas sesuai topik disertasi. Saya dan 12 teman lainnya masuk ke Kelas Hukum Perdata-Bisnis. Lagi-lagi teman-teman mendapuk saya menjadi ketua kelas mereka. Jadilah saya rangkap jabatan, bendahara kelas besar, dan ketua kelas Hukum Perdata-Bisnis. 

Bismillah semoga bisa menjadi amal jariyah yang bisa mempermudah tercapainya gelar doktor saya nanti. Aamiin yra.

Kesimpulan

Demikian sharing saya mengenai usir insecure dengan melebur bersama teman-teman. Insecure akan hilang karena dengan mengedepankan perasaan setara dengan rekan-rekan lainnya. Sama-sama mahasiswa, sama-sama penuntut ilmu, yang tengah memperjuangkan gelar doktor.

Bersyukur sekali bisa menikmati perkuliahan hingga ke jenjang S3 ini. Diajar oleh dosen-dosen profesor yang sudah malang melintang di bidangnya masing-masing, berpengalaman dan punya jam terbang riset dan keilmuan.

Oya, PTN tempat saya kuliah juga mendatangkan dosen dari PTN lainnya seperti dari UI, UNPAD, UGM, dan UNAND. Nah, saya tidak sabar menunggu profesor yang mengajar dari UGM, kampus S1 saya dulu. Mudah-mudahan bisa menyerap ilmu dari beliau dan berefek pada kemajuan proposal disertasi.

Salam pejuang doktor!






Menjadi Pejuang Scopus

Memasuki semester 2 kuliah di jenjang S3 di salah satu PTN BH (Badan Hukum) di daerah saya, Program Studi Doktor Ilmu Hukum (PDIH) menetapkan tidak ada ujian tertulis pada UTS dan UAS. Sebagaimana yang diterapkan pada semester gasal lalu. 

Sebagai gantinya, kami diwajibkan menulis karya ilmiah berupa paper yang dimuat di jurnal internasional terindeks Scopus, minimal Q3 (Quartile 3). Duh, auto tidak bisa tidur saya memikirkannya. Karena yang tidak berhasil mempublikasikan papernya di semester genap ini tidak akan dapat nilai. 

Pantang Menyerah

Ya, itulah saya. Meski berstatus istri dan ibu empat orang anak, dosen, sedang mengemban amanah jabatan struktural pula yaitu Kabag. Hukum Perdata (setara Kajur), saya memberanikan diri melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor.

Kuliah S3 di PTN tidaklah main-main. Berbeda dengan strata S2 dulu rasanya materinya masih bisa dipahami sambil momong anak. Dulu saya S2 di usia 27 tahun, dengan pengalaman baru 5 tahun jadi dosen. Dikover beasiswa penuh dari Dikti pula.

world class university
Saya dkk sekelas, no. 10 dari kanan / Dokpri

Nah, sekarang dengan usia genap 40 tahun saya lanjut S3 belum rezeki lolos Beasiswa Unggulan (BU) Kemdikbudristek tahun lalu. Berharap sekali bisa lulus beasiswa on-going di tahun ini. Agar ada sedikit kelapangan dana untuk biaya kuliah.

Jangan ditanya mengapa baru sekarang sih Mbak, lanjut doktornya. Ini dulu bagi saya sama seperti menanyakan kapan menikah pada gadis yang baru lulus S1. Atau kapan nambah anak lagi bagi ibu muda yang baru saja melahirkan. Dan lain-lain.

Timeline tiap orang itu berbeda-beda. Barrack Obama pensiun dari jabatan presiden AS di usia 55 tahun. Sementara Donald Trump penerusnya justru baru menjadi presiden di usia 70 tahun. See, terbukti usia hanyalah angka. Kekuatan mental dan kemauan untuk maju terus yang akan menentukan masa depan seseorang. Future is bought by present.

Di saat usia 'sangat layak lulus beasiswa doktor' begitu saya menyebutnya, beberapa tahun lalu saya sedang berkhidmat benar-benar nurut apa kata suami. Beliau belum rida saya apply beasiswa ya saya menahan diri selama bertahun-tahun lamanya. 

Alhamdulillah doa saya di setiap bulan Ramadan agar Allah SWT melunakkan hatinya, akhirnya diijabah di tahun 2021 lalu. Dia no comment saat saya membujuk rayu agar mengizinkan saya kuliah lagi. Dengan berbagai S&K akhirnya izin itu turun. Tak terkatakan betapa bersyukur dan gembiranya saya. 

Namun saat email masuk dari Puslapdik Kemdikbudristek bahwa saya tidak lulus BU, seakan kembali menyurutkan sedikit semangat.  Berpikir keras ke mana biaya akan dipenuhi. Tetapi Alhamdulillah ada saja rezeki datang dari Ar Razzaq, Sang Maha Pemberi Rezeki. Yang kuasa-Nya seluas langit dan bumi serta dengan segala isinya. Kendati demikian saya tetap akan berjuang melamar kembali beasiswa lanjutan.

Ada saja yang perlu dibayar selain SPP tiap semesternya. Bukan dari prodi atau universitas, tetapi dari kebutuhan pelengkap materi kuliah. Seperti uang fotokopi hingga Rp. 880 ribu, beli buku hingga Rp. 1 jutaan, biaya submit artikel ke jurnal Scopus kurang lebih Rp. 12 juta, bayar proofreader Rp. 900-an ribu, dan tentunya masih ada lagi.

Bukankah banyak aplikasi buku digital di zaman sekarang ini, ada yang gratis pula. Ada buku teks lawas rekomendasi dari profesor yang berbahasa asing, pangkal literatur pula. Mau tidak mau harus di-copy agar mudah mempelajarinya dan sebagai rujukan menulis disertasi nantinya.

Manajemen Waktu

Selain pantang menyerah, keunggulan saya mungkin di manajemen waktu. Mengapa saya tetap ikutan Tridop (Three Days One Post) ISB (Indonesian Social Blogpreneur), karena saya merasa keseriusan membaca banyak abstrak artikel jurnal tetap harus dibarengi dengan menulis blog.

Berbeda dengan menonton drama Korea, meski saya jelas terhibur namun tak seproduktif posting artikel blog. Maka tadi setelah saya seharian menyeimbangkan urusan kerjaan kampus dengan rumah tangga. Syukurnya hari ini bisa WFH sebab Medan banjir di mana-mana, akses jalan ke kampus belum sepenuhnya diketahui aman, kabarnya sih sudah normal kembali.

Manajemen waktu sangat dibutuhkan untuk membantu efektivitas dan efisiensi seluruh pekerjaan saya. Baik mengurus keluarga, menduduki jabatan di kampus, menjalankan tugas fungsional sebagai dosen, dan memenuhi komponen tugas-tugas kuliah S3.

Dalam laman Instagramnya, Ditjen Dikti merilis 4 (empat) hal yang harus dimiliki seorang mahasiswa (di strata apapun menurut saya), agar berhasil lulus tepat waktu:

  1. Komitmen
  2. Prioritas
  3. Proaktif
  4. Manajemen Waktu
Nah, masuk kan si manajemen waktu tuh, apapun ceritanya keseharian kalau tidak dimanajeri dengan baik akan tersia-siakan dan berakhir dengan scrolling down TikTok. Btw, akun TikToknya @cerdasberkarakter asyik banget!

Selalu Melihat Sisi Positif

Saya berusaha senantiasa mencari sisi positif dari keadaan terburuk sekalipun. Saya tak mau menyalahkan diri sendiri. Sedari remaja sepertinya sudah cukuplah jadi pribadi yang sensi, baperan, mudah tersinggung. 

Setelah menikah, setiap hari berdiskusi dengan suami, memiliki satu demi satu putra-putri, menjalani 17 tahun karir sebagai dosen, saya kira lumayanlah memberikan seberapa pengalaman buat saya. Meskipun saya tak pernah merasa sudah jadi orang yang pintar. 

Katanya, lebih baik jadi orang yang pintar merasa ketimbang merasa pintar. 

Jadi kalau sekretaris prodi pernah seperti ngamuk-ngamuk di depan kami karena bertanya dengan berulang terus untuk mengonfirmasi sesuatu, saya pun mencari sisi positif dari pengalaman ini. 

Tak semua orang berada dalam frekuensi yang sama di waktu yang sama pula. Mungkin karena tuntutan pekerjaan, tekanan hidup, dan sebagainya membuat reaksi yang ditampakkan menjadi blunder. 

Saya menginstrospeksi diri, sama saja kan ketika mendapati pesan singkat mahasiswa di aplikasi obrolan yang bolak-balik bertanya hal yang sama berkali-kali, rasanya ingin blokir nomornya. Namun lebih baik saya segera beralih ke hal lainnya. Cepat letakkan ponsel dan main sama anak. Senyuman  tulus yang kita hadiahkan buat anak ternyata melegakan pikiran.

Kesimpulan

Menjadi pejuang Scopus adalah keluar dari zona nyaman selama ini. 158 artikel blog yang saya posting sepanjang tahun 2021 lalu memberikan kebahagiaan buat saya. Beberapa tautan artikel jurnal terindeks Google Scholar dan SINTA 3 sudah saya hasilkan. Dua prosiding internasional yang telah publish namun belum indexed by Scopus ataupun WOS. 

membaca hard copy disertasi
Doakan saya ya, Teman-teman ^^

Perjalanan masih panjang, namun saya insyaallah akan tetap berjuang. Mencoba lagi seleksi beasiswa meski tahun ini on-going dan usia saya maksimal, yaitu empat puluh tahun. Saingannya dosen-dosen muda di bawah saya. Pantang menyerah, manajemen waktu, dan selalu positive thinking, akan membantu saya menggapai cita meraih kesuksesan.

Salam pejuang jurnal Scopus 





Dialektika Pendidikan Hukum: Hukum atau Ilmu Hukum

Berdasarkan Pasal 10 ayat (2) huruf f Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 (selanjutnya disebut sebagai UU Pendidikan Tinggi), rumpun ilmu terapan adalah rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengkaji dan mendalami aplikasi ilmu bagi kehidupan manusia.

Antara lain pertanian, arsitektur dan perencanaan, bisnis, pendidikan, teknik, kehutanan dan lingkungan, keluarga dan konsumen, kesehatan, olahraga, jurnalistik, media massa dan komunikasi, hukum, perpustakaan dan permuseuman, militer, administrasi publik, pekerja sosial, dan transportasi.[1]

(Analisis Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi)

Selanjutnya diatur pula di dalam Peraturan Menristekdikti No. 15 Tahun 2017 tentang Penamaan Program Studi pada Perguruan Tinggi, yang diatur lebih lanjut oleh Keputusan Menristekdikti No. 257/M/KPT/2017 tentang Nama Program Studi pada Perguruan Tinggi. Disebutkan di dalam Kepmen tersebut bahwa nama prodi pendidikan hukum yang sebelumnya prodi ilmu hukum menjadi prodi hukum.[2]

ilmu hukum
Ilustrasi pendidikan hukum / FHUI

Masih Mentransformasikan Ilmu Hukum atau Tidak?

Ilmu hukum memiliki tiga lapisan yaitu filsafat hukum, teori hukum, dan dogmatika hukum.[3] Hukum adalah sekumpulan peraturan-peraturan atau kaidah-kaidah dalam suatu kehidupan bersama, keseluruhan peraturan tentang tingkah laku yang berlaku dalam kehidupan bersama yang dapat dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi.[4] 

Sehingga jelas sekali perbedaan di antara ilmu hukum dan hukum itu sendiri. Ilmu hukum itu keilmuannya, sedangkan hukum adalah normanya. Sekilas akan diperoleh persepsi bahwa pendidikan hukum mengalami penyempitan cakupan, hanya mempelajari tentang norma-norma. Kesannya, para pembuat kebijakan ini terjebak ke dalam pemikiran pragmatis yang mengesampingkan orisinalitas keilmuan hukum.

Lantas bagaimana dengan segi keilmuannya. Seorang sarjana hukum tentunya diharapkan akan menjadi seorang pemikir ilmu hukum sekaligus pemikir/penerap hukum. Pendidikan hukum seyogyanya tidak diproyeksikan menjadi “tukang” tetapi menjadi “bos-nya tukang.” 

Ilmu hukum termasuk ke dalam ilmu praktis normologis, berusaha menemukan hubungan dua hal atau lebih berdasarkan asas imputasi, yakni mempertautkan tanggung jawab atau kewajiban subyek tertentu sehubungan dengan perbuatan tertentu yang pada akhirnya dia mau bertanggung jawab atau tidak.

Dalam praktiknya, meski diklasifikasikan ke dalam rumpun ilmu terapan, pendidikan hukum tetap melaksanakan pengajaran keilmuan yang mengikutsertakan ketiga lapisan ilmu. Sehingga bisa disimpulkan bahwa penamaan ilmu hukum menjadi hukum tidaklah mengubah secara radikal mengenai pendidikan dan pengajaran ilmu hukum. 

Transformasi ilmu hukum beserta lapisannya, termasuk teori dan praktik masih berlangsung secara proporsional sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, namun tidak sampai mereduksi keilmuan hukum itu sendiri.

Beberapa mata kuliah yang termasuk rumpun ilmu sosial memang tidak lagi diajarkan seperti antropologi dan sosiologi hukum. Namun elan dan spirit kedua bidang ilmu tersebut diabstraksikan ke dalam pengantar mata kuliah dasar-dasar ilmu hukum seperti pengantar ilmu hukum, hukum perdata, hukum pidana, dan lain-lain. 

Hal ini terepresentasikan dari instrumen pengajaran berupa RPS dan buku teks/modul ajar perkuliahan yang menyinggung pula mengenai materi-materi terkait kebutuhan penerapannya sebagai ilmu bantu dari ilmu hukum.

Kesimpulan

Dialektika pendidikan hukum khususnya mengenai ilmu hukum atau hukum akan terus berlangsung sampai kapan pun. Sudah saatnyalah para pemikir hukum, baik ia akademisi maupun para profesional hukum, tidak memperdebatkan lagi soal bunyi, tetapi memprioritaskan soal substansi. Sebagaimana pendapat Philipus M. Hadjon, bahwa bukan masanya untuk memperdebatkan apakah ilmu hukum adalah ilmu.[5]

Selama lapisan ilmu hukum masih ditransformasikan dalam pendidikan hukum maka tujuan untuk menghasilkan sarjana hukum yang berkualitas dan memiliki daya saing tinggi akan dapat tercapai. Memperbincangkan kembali pertentangan, bukan semata untuk menyuburkan polarisasi, tetapi demi kepentingan senantiasa mempertajam pemikiran, berdialektika dan membuka ruang-ruang diskusi ilmiah yang konstruktif analitis. 

Perubahan bisa dilihat dari beberapa sudut pandang. Selama masing-masing mempunyai dasar pijakan yang kuat, maka ia layak diterima sebagai bagian dari penyesuaian dengan perkembangan zaman di era revolusi 4.0. Tentunya dialektika mengenai ilmu hukum dan hukum, posisi ilmu hukum di rumpun terapan atau kembali lagi di ilmu sosial atau ilmu humaniora, akan terus berlangsung.

"Bahkan ketika hukum telah ditulis, mereka tidak harus selalu tidak berubah." - Aristoteles[6]

Referensi:

[1] Pasal 10 huruf ayat (2) huruf (f) Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi

[2] Permenristekdikti No. 15 Tahun 2017 tentang Penamaan Program Studi pada Perguruan Tinggi jo. Kepmenristekdikti Np. 257/M/KPT/2017 tentang Nama Program Studi pada Perguruan Tinggi

[3] Titik Triwulan Tutik, Hakikat Keilmuan Ilmu Hukum Ditinjau Dari Sudut Filsafat Ilmu dan Teori Ilmu Hukum, Jurnal Mimbar Hukum, Volume 24, Nomor 3, Oktober 2012, h. 449

[4] Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar, Penerbit Liberty, (Yogyakarta: Liberty, 2005) h. 40

[5] Tutik, Op.Cit, h. 445

[6] Reni Novita Sari, https://www.dream.co.id/your-story/44-kata-kata-bijak-filsuf-hebat-dan-tersohor-aristoteles-200514s.html diakses pada 28 Agustus 2021