Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Aplikasi Zenius Education Praktis Untuk Si Kinestetis

"Bang Royyan, nanti jangan sampai Maghrib ya pulangnya."
"Gak janji ya, Mi..." , jawabnya sambil mencium tangan saya
"Lho, kok gitu... main sepak bola apa yang sampai malam?"
Cuma nyengir, sambil mengendarai sepedanya. 
"Tetap ditungguin pulang... ntar dijemput Ayah ke lapangan."
Wusssh,,, sambil melambaikan tangannya tanda tak setuju, Royyan berlalu dari pandangan mata saya. 

Yah, begitulah si nomor dua ini. Tidak banyak bicara tetapi tak bisa berhenti bergerak. Menurut catatan kelas parenting yang pernah saya ikuti, anak sejenis Royyan ini memiliki gaya belajar kinestetis. Untung ada aplikasi Zenius Education, yang dapat membantu putra saya dalam hal belajar.

Zenius Education
Sebagai orang tua saya mendukung penuh proses pembelajaran anak / dokpri

Ciri-Ciri Anak dengan Gaya Belajar Kinestetis

Bire, dkk. (2014) menyebutkan gaya belajar ada 3 macam yaitu gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik. Ketiganya dapat diamati dengan panca indra. 

Selanjutnya dijelaskan dalam bukunya Hernacki & Deporter (2011: 113), bahwa gaya belajar visual lebih mengutamakan indera penglihatan, gaya belajar auditorial lebih mengutamakan pendengaran, dan gaya belajar kinestetik lebih mengutamakan indra peraba (sentuhan). 

Sehingga dengan mengetahui jenis gaya belajar siswa akan membuat siswa paham cara belajar terbaik menurutnya sehingga dapat melakukan proses berpikir dengan baik.

Lalu bagaimana ciri-ciri anak dengan gaya belajar kinestetis atau kinestik ini? Berikut penjelasannya.

1. Berbicara seperlunya 

Royyan persis seperti ini, berbicara kalau ada keperluannya saja, karena dia lebih suka utak-atik mainan adiknya yang rusak. Terkadang juga bicaranya terlampau cepat sehingga saya suka minta diulang, tadi ngomong apa ya.

2. Berpenampilan sekenanya

Saya mikirnya apakah Royyan ini anak lelaki ya, kok penampilan sekenanya saja. Tidak ambil pusing bajunya sudah disetrika atau belum. Mungkin agar cepat pergi main lagi bareng teman-temannya.

3. Aktif bergerak

Nah, ini yang paling menonjol dari gaya belajar Royyan, diminta mengulang materi pelajaran, malah jalan sana jalan sini. Anak dengan gaya belajar kinestetik memiliki kemampuan memproses informasi secara fisik, lewat gerakan tangan, tubuh, ekspresi, juga kontrol. 

Jadi jangan salah, ketika sepertinya ia tak terlihat memperhatikan, sambil bergerak, dengan membaca sekilas instruksi guru untuk membuat percobaan sains, ia langsung memahami dan bergegas membuatnya.

4. Menyukai permainan yang menyibukkan

Anak dengan gaya belajar kinestetik dianugerahi dengan kemampuan motorik kasar yang baik, sehingga dalam proses pembelajaran ia akan sering menyentuh, meraba, dan berkontak langsung dengan benda-benda di sekitarnya.

Royyan sedari usia balita sudah dapat menyelesaikan puzzle yang rumit menurut anak seusianya. Saat bermain alat bongkah plastik kecil-kecil, ia dengan gesit merangkainya satu demi satu hingga jadi lebih dahulu ketimbang teman-temannya.

zenius live class
Royyan sedang menyimak Goals and Motivation di aplikasi Zenius Education

Ada fitur ZenBot yang pasti sangat disukai anak kinestetis. Tinggal kirim pertanyaan atau foto soal menantang pada pelajaran Fisika, Kimia, dan Matematika ke aplikasi maka robot AI (Artficial Intelligent)-nya Zenius Education akan menyelesaikannya dengan video pembelajaran. Praktis!

5. Tidak mudah terganggu dengan keributan di sekitarnya

Meski berada di taman bermain yang ramai dengan teriakan anak-anak, Royyan tidak mudah terganggu atau pecah konsentrasi. Ia seakan nyaman dengan keadaan seperti itu. Berbeda dengan kakak perempuannya yang membutuhkan kondisi hening untuk bisa leluasa membaca dan mengerjakan PR sekolahnya.

Strategi Praktis Pembelajaran Si Kinestetis

Setelah mengenali gaya belajar anak, misalnya diperoleh bahwa anak memiliki ciri-ciri yang mendekati pada gaya belajar kinestetis seperti Royyan anak saya, selanjutnya adalah mencari tahu strategi praktis pembelajaran si kinestetis ini.

Jangan paksakan anak belajar berjam-jam

Suatu hal yang keliru ketika orang tua memaksakan anak dengan gaya belajar kinestetis untuk duduk diam berjam-jam membaca buku. Sudah pasti ayah bunda akan kecewa, sebab tak lama kemudian, berpaling sedikit, buku sudah ditinggalkannya.

Solusinya dengan belajar bersama aplikasi Zenius Education yang sistem pembelajarannya adaptif, dengan ekosistem pembelajaran online-offline sangat membantu siswa fokus kepada hal-hal penting dan esensial secara efektif dan efisien. 

Online dapat diakses melalui aplikasinya, sementara offline dapat diikuti di New Primagama Powered by Zenius. Tadi sore saat saya pulang kerja, melewati New Primagama, ada banner besar Zenius ini, wah sebagai orang tua jadi sangat optimis pembelajaran anak saya akan semakin baik.

Jadi bukan lama kuantitasnya hingga berjam-jam, namun fokus, esensial, efektif dan efisien sebagaimana yang digaungkan dalam kurikulum Merdeka Belajar besutan Mas Menteri. 

Back To School (BTS) Zenius, Bimbel perlu nggak sih?

Sebagai orang tua dari anak yang suka bergerak dan punya banyak aktivitas, pastinya ada kekhawatiran nantinya si anak ini mampu tidak mengikuti seluruh pelajarannya di sekolah. Apalagi Royyan yang duduk di bangku kelas IX, pastinya ingin menembus SMAN terbaik di kota kami.

Teman-teman saya sesama orang tua pernah berkomentar kalau di antara para siswa, temannya anak-anak kami ada siswa yang ambisius ingin mempertahankan rangking terus, makanya mengikuti bimbingan belajar. Harusnya menurut mereka, dengan kemampuan sendiri bisa dong meraih prestasi akademik. Toh, gaya belajar tiap anak berbeda-beda.

Menurut saya pemikiran seperti itu kurang tepat. Bukan berarti jika anak mengikuti bimbel lantas dicap sebagai anak yang ambisius, berikut pula orang tuanya disebut sebagai ortu yang ambisius juga. Padahal tidak demikian, dengan mengikuti bimbel seperti di Zenius Education, proses pembelajaran siswa menjadi lebih terarah dan optimal waktunya ketimbang mengandalkan kemampuan sendiri tanpa ada sistem pembelajaran yang adaptif dan sangat terukur.

Di Zenius Education, ada ZenCore yaitu core kurikulumnya Zenius, yang akan melatih skill dan knowledge Sobat Zenius, keren kan!

ZenCore adalah keahlian dan pengetahuan yang menurut Zenius mesti dikuasai oleh semua orang terlepas dari apa pun jenjang pendidikan, jurusan, atau bidang kerjaannya. 

Nah, meski saya orang tua dari siswa yang belajar di Zenius Education, saya kepo dong, apa sih skill dan knowledge yang harus dikuasai semua orang itu? Kalau saya masih menguasai nggak ya, mengingat telah lama meninggalkan bangku sekolah menengah.

Cara mengakses soal-soal CorePractice sangat mudah, kamu tinggal tap ZenCore di homepage, akan muncul pilihan-pilihan Verbal dan Logika, Matematika, Bahasa Inggris, dan Sains. Kerjakan semua kategori kuis di CorePractice. Jangan berhenti meningkatkan level. Kamu juga bisa melihat berapa Global Score dan Global Rank kamu dibandingkan temanmu. Wew, seru beud!

1. Verbal dan Logika

Pada bagian ini kita ditantang menyelesaikan soal-soal yang terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia dan logika. Level pertama mudah dong, karena saya baru mulai, nggak heranlah kalau mendapatkan apresiasi "cakep banget."

2. Matematika

Sebelumnya saya pernah mengikuti tes numerik seperti ini saat ujian CPNS, ujian masuk S2-S3, dan yang baru-baru ini, seleksi jadi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Program MSIB (Magang dan Studi Independen Bersertifikat) Batch 2 Tahun 2022, MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) Kemdikbudristek RI.

Bagus banget nih latihan di ZenCore, sedari duduk di bangku sekolah sudah terbiasa dengan soal-soal model HOTS (Higher Order Thinking Skills). Ketika perlu mengikuti macam-macam tes di masa yang akan datang, siswa sudah terampil dan memiliki bekal yang memadai. 

Meski namanya kuis Matematika, uniknya kalimat pertanyaannya santai banget, kesannya sedang tidak mengerjakan soal Matematika saja. Dan, hasil kuis saya juga "cakep banget". Ntar pingin lanjut ah ke level selanjutnya.

3. Bahasa Inggris

Kebetulan bahasa Inggris adalah mapel (mata pelajaran) favorit saya sesudah bahasa Indonesia. Soal-soal kuis melatih saya untuk menerapkan grammar secara baik dan benar.  Namun di pertanyaan terakhir terjebak pada lawan kata, "awas tipuan" muncul kata-kata ini setelah saya melakukan kesalahan dalam menjawab. 

Hmm, justru di mata pelajaran kesukaan malah ada salah ya, berarti nggak boleh sepele nih, harus mindful dalam menjatuhkan pilihan jawaban yang paling tepat.

4. Sains

Soal-soal sains juga beragam, campuran dari pelajaran IPA (biologi dan fisika), namun saat mengerjakan kuis, saya belum memperoleh soal kuis dari pelajaran kimia. Dulu urutannya waktu di SMA saya sangat suka dengan biologi, kimia, dan fisika. Semua pertanyaan saya selesaikan, dan apresiasi yang muncul sama seperti ketiga mapel di atas, yaitu cakep banget!

Senangnya lagi kita langsung tahu posisi skor dan rangking secara global. Ketahuan kan kalau kita tuh masih jauh tertinggal dari yang lainnya. Ada yang skornya sampai ribuan lho, keren bangeet. Jadi nggak sabar memotivasi terus menerus putra saya untuk bisa mengoptimalkan fitur ZenCore ini.

Belajar sambil mengeksplorasi lingkungan sekitarnya

Pernah satu waktu Royyan hendak ujian kenaikan kelas. Meski prestasinya tak bisa dianggap remeh, tetap saja ada rasa khawatir sebagai seorang ibu, takut anaknya esok tak bisa menjawab soal ujian.

Salah satu tips belajar, saya bacakan soal-soal latihan yang terdapat di tiap bagian akhir bab pelajaran, lalu sambil mengencangkan baut-baut ban sepedanya, Royyan menjawab pertanyaan saya. 

ganti cara belajar
Saya sudah punya akun orang tua di Zenius lho, Moms.... yuk ikutan.


Anak kinestetis tidak suka hanya membaca buku, pelajaran jadi cepat diserap jika sambil mengeksplorasi lingkungan sekitar, maka jangan ragu untuk ganti cara belajar.

Kasih permen karet saat belajar

Pernah menonton di TV orang bule suka mengunyah permen karet sembari mengerjakan soal Matematika? Nah, boleh juga tuh dicoba tips belajar seperti itu. Izinkan anak mengunyah permen karet agar saat belajar ia mulutnya tetap bergerak-gerak sebagai ciri khas gaya belajar kinestetik, aktif bergerak.

Menyimak pembahasan soal di Content Library

Salah satu tool keren  dari aplikasi Zenius Education adalah Content Library, isinya adalah 100.000 konten pembahasan soal, video, ujian, topik, dan lainnya yang sangat membantu mendorong para siswa belajar menyelesaikan pertanyaan. 

Belajar sambil mendengarkan musik

Anak dengan gaya belajar sambil mendengarkan musik apalagi musik yang membangkitkan semangat, wah klop deh! Karena berbeda dengan anak dengan gaya belajar visual, anak kinestetik kurang menyukai lingkungan belajar yang condong sunyi senyap seperti tengah malam.

Ganti cara belajar anak dengan mengajaknya nonton Zenius Live Class, diisi oleh tutor-tutor berpengalaman. Terus terang saya sendiri juga jadi ikutan menyimak karena asyik belajar lagi pelajaran siswa kelas IX dengan cara mudah dan menyenangkan.

Terutama bagian ZenBot menambah kepercayaan diri anak dalam menuntaskan soal-soal pelajaran yang dianggap sulit.

Kesimpulan


Aplikasi Zenius Education praktis untuk si kinestetis, hadir untuk membantu proses pembelajaran yang dapat menyesuaikan dengan berbagai gaya belajar anak. 

Misalnya anak saya, dengan gaya belajar kinestetis, tidak bisa betah duduk berlama-lama, maka dengan ekosistem pembelajaran online-offline membantu siswa fokus kepada hal-hal penting dan esensial secara efektif dan efisien. Sangat praktis dengan ZenCore yang seiring sejalan dengan Kurikulum Merdeka.

ZenCore cocok untuk gaya belajar kinestetik
Royyan bersemangat memulai tahun ajaran baru dengan Zenius



Tunggu apalagi, Ayah Bunda... mulai tahun ajaran baru ini paket belajar Zenius dapat diakses mulai harga Rp. 199.000,- Semua paket sudah termasuk bisa mengakses Zenius Live Class sehingga anak bebas bertanya tentang pelajaran yang diminatinya. Wow, merdeka belajar banget kan.

Mari mencoba aplikasi Zenius Education, berikut pranalanya:


Demikian artikel kali ini, mudah-mudahan bermanfaat ya terutama bagi siswa, orang tua, pendidik, dan siapapun yang peduli dengan proses pembelajaran yang baik untuk anak. Jika ada yang ingin didiskusikan, boleh meninggalkan pendapatnya di kolom komentar ya, terima kasih. Yuk, ganti cara belajar.

Salam.

Referensi:

Lisa Faradila dkk, Analisis Kemampuan Berpikir Reflektif Matematis Pada Siswa Dengan Gaya Belajar Visual-Kinestetik, Jurnal Maju, Volume 7 No. 2, September 2020 e-ISSN: 2579-4647, Page : 121-129
https://www.fadlimia.com/2018/11/memahami-si-kinestetis.html
https://www.fadlimia.com/2018/12/umi-biarkan-abang-bergerak.html
https://www.fadlimia.com/2018/11/royyan-si-anak-kinestetis.html
https://www.orami.co.id/magazine/kinestetik
https://www.zenius.net/zencore/