Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Yakinlah Rezeki Tak Hanya Uang

Tantangan menulis artikel blog dari Komunitas ISB berlanjut ke bulan Januari-Februari 2023. Tema hari kedua yaitu:

Pilihan untuk merasa beruntung, tidak tersakiti dan tidak dirugikan dalam moment yang sebenarnya tidak sedang berpihak pada kita. Contohnya: Saat diundang acara tidak dapat fee, lalu kamu dinomor sekiankan dibanding makro influencer dan media. Tapi kamu memutuskan tetep datang dengan angle niat akan dapat ilmu, kenalan sama orang2 hebat dan mencari opportunity dari orang2 yang hadir. Contoh lain: Saat dikritik, emang bete tapi kalau milih buat belajar lagi itu lebih baik bukan?


Untuk membaca tema hari pertamanya, kamu bisa mengekliknya di sini.

Satu waktu dari kampus saya ditugaskan mewakili pusat studi menghadiri sebuah acara. Saya adalah salah satu dari enam anggota di pusat studi tersebut. Disclaimer dulu ya, artikel ini tidak mendiskreditkan siapapun dan apapun, hanya berupa pemaknaan hidup dari saya atas pengalaman yang terjadi, lantas dikaitkan dengan tema hari ini.


Diminta Menghadiri Seminar Nasional 

Waktu itu saya diminta ketua pusat studi untuk menghadiri seminar nasional bertajuk Seminar Perlindungan Hak Pekerja Perempuan di kota kami. Saya menyambutnya dengan antusias, apalagi narasumbernya terdiri dari para pakar di bidang perlindungan perempuan, ahli ketenagakerjaan, dan pemangku kebijakan.

Saya mengikutinya dengan bersemangat, saya mengajukan pertanyaan pada sesi interaktif, mempertanyakan bagaimana peraturan perundang-undangan yang menangani permasalahan hak-hak pekerja perempuan sudah ketinggalan zaman, tertinggal jauh dibandingkan perkembangan isu terkini di bidang pengarusutaamaan gender.

Esoknya rekan saya sesama anggota menghubungi dan mempertanyakan kegiatan seminar, saya menjawab apa adanya. Ia lalu berbagi cerita mengenai kondisi yang jauh dari ideal di lembaga kami.

seminar nasional
Ilustrasi menghadiri seminar di hotel / sumber gambar: Babel Pos


Tidak Ada Uang Transport

Biasanya diterbitkannya surat tugas untuk mewakili lembaga, pastilah bersamaan dengan uang transport yang sudah ada tabel standarnya. Misalnya dalam kota berapa ratus rupiah, luar kota berapa juta, semua lengkap diatur dengan tertib oleh universitas.

Rekan saya itu menyayangkan mengapa kami yang para anggota lembaga jika diminta menghadiri seminar, tidak ada uang transportnya. Sementara sang ketua ada uang transportnya, apa karena ketua lebih besar tanggung jawabnya, demikian kami menjaga prasangka.

Tidak Diutus ke Luar Pulau

Selain hanya diminta menghadiri seminar nasional yang berlokasi di dalam kota, kami juga hampir tidak pernah mewakili pusat studi untuk acara di luar provinsi, apalagi luar pulau, itu sudah pasti porsinya ketua. Bahkan beliau mondar-mandir keluar negeri menjadi utusan lembaga dalam konferensi di tema studi kami.

Kami mendengarkan sharing beliau lewat rapat-rapat koordinasi lembaga, dan rencana ia akan pergi lagi di event berikutnya, baik yang di luar negeri maupun yang di luar pulau. 

Saya pribadi sama sekali tidak keberatan mengingat masih punya balita yang sekiranya ditinggal berhari-hari kasihan juga. Justru dengan porsi tugas berseminar di dalam kota menjadi suatu kesyukuran bagi saya.

Tidak Dilibatkan dalam Tim Pengabdian Masyarakat

Suatu saat ada penugasan dari lembaga pengabdian masyakarat, kepada pusat studi kami untuk melaksanakan pengabdian masyarakat yang diusulkan. Kebetulan proposalnya lulus. Namun sayang hanya ketua, sekretaris dan bendahara saja. Sementara para anggota dipersilakan menyusun usulan abdimas sendiri.

Tidak dilibatkan dalam tim pengabdian masyarakat penugasan lembaga, saya pun tak ingin membuang masa, sesegera mungkin membuat proposal dengan menggandeng teman yang bisa diajak bekerjasama, Alhamdulillah usulan kami lulus dan didanai, dengan saya sebagai ketua timnya. Senang sekali.

Pilihan Sikap yang Membuat Saya Tetap Merasa Beruntung

Tak semua kondisi sesuai dengan ekspektasi. Ada kalanya jauh panggang daripada api. Yang bisa dilakukan adalah mengubah sikap saya dengan memilih sikap yang positif sesaat itu juga. Jadi teringat dengan istilah personal agility.

Personal Agility adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengubah arah dengan cepat dan tepat pada waktu bergerak tanpa harus kehilangan keseimbangan. Sepertinya di masa pandemi seperti sekarang ini setiap orang harus melatih personal agility-nya.

Ada slogan lucu dari kala Youtube Sobat Missqueen, "Mengeluh itu gak ada duitnya" Ahaha... benar sekali ya. Ketimbang saya berkeluh kesah, lebih baik saya fokus ke kebahagiaan diri sendiri saja.

1. Tidak ada uang transport? No problem

Orang tua saya menanamkan agar tidak bermental miskin. Artinya untuk sekadar uang transport ya pasti ada di dompet saya. Tidak pernah menyandarkan jadi pergi atau tidak hanya gara-gara tidak punya uang transport, terlebih ke majelis ilmu seperti seminar nasional.

Yakinlah rezeki tak hanya uang dari seminar nasional itu. Di sana saya berkesempatan belajar langsung dari para pakar. Berkenalan dengan teman-teman aktivis buruh perempuan yang mustahil bisa saya temui jika saya berada di menara gading bernama kampus. Masih banyak lagi hikmah berserakan yang bisa saya punguti dan dijadikan pelajaran hidup untuk menambah kebijaksanaan.

2. Tidak mewakili lembaga ke luar pulau? No Cry!

Sebagaimana yang saya ungkapkan di bagian atas, ibu bekerja yang masih mengurusi balita seperti saya, pastinya sangat berterima kasih  jika tidak disuruh-suruh bolak-balik ke luar provinsi. Hanya dalam kota saja, trus bisa ketemu wajah anak tercinta, itu yang lebih membahagiakan.

3. Tidak diikutkan ke dalam tim? Bikin sendiri saja

Beberapa kali mengetuai tim penelitian dan pengabdian masyarakat, saya memperoleh sejumlah pengalaman berharga, salah satunya menjadi lebih rapi dalam memanajeri suatu kegiatan. Mengatur waktu, dan mengelola keuangan tim. Semuanya harus bisa diselesaikan tepat waktu dan minim kesalahan.

Maka ketika mengetahui nama saya tidak disertakan, saya dengan sigap membentuk tim sendiri dan bersyukur sekali, lulus dalam kompetisi hibah internal universitas. Sungguh Allah SWT tidak pernah membiarkan hamba-Nya yang berusaha untuk berbaik sangka di segala situasi.

Kesimpulan

Yakin bahwa rezeki tak hanya uang saya alami sendiri. Rezeki memperoleh ilmu langsung dari pakarnya, menambah jejaring relasi dengan teman-teman sesama peserta seminar yang datang dari berbagai kalangan, bisa langsung pulang ke rumah dan berjumpa dengan anak ketika hadirnya hanya di dalam kota. Dan lulus hibah internal sebagai ketua tim ketika nama tidak diikutkan dalam tim pengabdian masyarakat.

Demikian cerita saya kali ini, nantikan artikel selanjutnya ya, terima kasih.

Salam.







Botol Minum Teman Menulis Artikel Blog

Bekerja sebagai narablog membutuhkan daya konsentrasi yang tinggi. Salah menuangkan isi pikiran membuat tulisan menjadi rangkaian kalimat semata tanpa makna. Tak ada manfaat yang bisa dipetik dari tulisan yang tidak fokus.

Untuk mendukung bloger tidak gagal fokus dalam menulis artikel blognya, solusinya adalah memperbanyak minum air putih. Selain untuk menjaga kesehatan, minum air putih memilih beragam manfaat, di antaranya adalah sebagai berikut:

Manfaat Banyak Minum Air Putih

Penelitian tentang manfaat banyak minum air putih sudah dilakukan oleh para peneliti. Bahkan manusia hanya sanggup bertahan hidup 2-4 hari tanpa minum air, selanjutnya tubuhnya akan terancam dehidrasi parah, kulit menjadi keriput, berakibat pada hilangnya kesadaran dan akhirnya meninggal dunia.

Sementara jika tidak ada makanan manusia bisa bertahan satu minggu. Namun jika tidak mendapatkan makanan tetapi bisa minum saja, manusia mampu bertahan hidup hingga tiga bulan. Karena air berfungsi air berfungsi untuk mentransportasi mineral, vitamin, protein dan dan zat gizi lainnya ke seluruh tubuh. 

Botol minum kesayangan / dokpri


Keseimbangan suhu tubuh sangat tergantung pada air, sebab air sebagai pelumas jaringan tubuh sekaligus bantalan sendi-sendi, tulang dan otot.

Berikut manfaat banyak minum air putih dilansir dari situs web Yankes Kemenkes, 

  1. Menyehatkan tubuh, racun-racun luntur bersama air yang mengaliri tubuh.
  2. Melancarkan BAB, agar tidak kena sembelit harus banyak minum air putih.
  3. Mencegah peningkatan berat badan, otak dapat salah mengirim pesan, maka utamakan minum dulu baru mencari makanan untuk dikonsumsi.
  4. Mencegah dehidrasi, kulit tubuh menjadi lembap dan halus jika banyak minum air putih.
  5. Membantu menghilangkan racun dalam tubuh, kaitannya dengan menyehatkan tubuh.
  6. Meningkatkan konsentrasi, sangat dibutuhkan bagi profesi bloger dan dosen yang pekerjaannya menulis setiap harinya.


Botol Minum Teman Saya Menulis Artikel Blog

Mendukung kecukupan minum air putih bagi tubuh, saya membiasakan diri membawa ke mana-mana botol air minum kesayangan. Gambarnya bisa dilihat di artikel bagian atas. Sebagai seorang bloger, dosen, istri, dan ibu dari empat anak, asupan air putih minimal 2 liter sehari mutlak dibutuhkan.

Untuk mengecek tingkat kecukupan air putih per hari, saat BAK tinggal melihat saja warna urine. Semakin jernih maka kebutuhan air putih dalam tubuh dapat dikatakan cukup.

Botol air minum saya terbuat dari kaca, cenderamata reuni XX alumni Fakultas Hukum UGM angkatan 99. Mungkin spesial karena bersamanya ada sekeping kenangan bersama teman-teman sekelas dulu saat kuliah S1.

Botol minum dari kaca ini selalu menemani hari-hari saya ketika bekerja di depan laptop. Terutama saat masa-masa pandemi Covid-19 lalu, sehari ada pertemuan daring 2-3 kali. Rasanya ada yang kurang jika beraktivitas tanpa stok air putih di samping laptop, di atas meja kerja saya. 

Kalau mengalami writer's block saya memperbanyak minum air putih, Alhamdulillah inspirasi menulis muncul lagi, bagaikan banjir saking banyaknya. Makanya saya bersahabat baik dengan si botol kaca beserta isinya.

Kesimpulan

Botol minum teman menulis artikel blog saya adalah botol kaca cenderamata reuni teman-teman kuliah dulu di Jogja. Rasanya hari saya tidak lengkap tanpa si botol minum kesayangan ini. Menemani kegiatan ngeblog saya, maupun rapat dan seminar online, serta menulis artikel ilmiah.

Bagaimana dengan teman-teman? Ceritakan dong tentang botol minum teman ngeblog kamu sehari-harinya. Yuk, lebih rajin lagi minum air putih, sediakan botol minum favorit kamu di sekitarmu ya.

Salam sehat.


Referensi:

https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/412/manfaat-air-putih-bagi-tubuh
https://mgt.unida.gontor.ac.id/pentingnya-konsumsi-air-putih-untuk-keseharian-kita/
Kanal Youtube MetroTV "Jangan sepelekan minum air putih"





7 Hal Sederhana Yang Ternyata Memberikan Pengaruh Besar Dalam Hidup

Hidup punya misteri bagi tiap orang. Terkadang hal-hal sederhana memberikan pengaruh besar dalam hidup. Namun tak bisa diduga pula pengaruh itu ada yang baik dan ada yang buruk. 

Di artikel ini diulas mengenai 7 hal sederhana yang ternyata memberikan pengaruh besar dalam hidup. Tentunya pengaruh yang positif.

7 Hal Sederhana yang Ternyata Memberikan Pengaruh Besar dalam Hidup Saya

1. Membaca Sebelum Tidur

Dari kecil saya gila sekali membaca. Sengaja memilih diksi "gila" untuk mewakili kata amat sangat keranjingan. Rasanya dalam sehari tidak membaca buku meski cuma satu halaman, saya auto-mencari-cari. 

Buku yang dibaca macam-macam, buku sekolah, buku cerita, koran, kalau zaman sekarang buku elektronik.

hal-hal sederhana

Tak pernah menyangka kebiasaan sepele sejak usia dini itu mengantarkan saya menjadi seorang dosen yang mau tidak mau hidup kesehariannya memang bergelimang buku. Baik buku yang dikarang sendiri maupun buku-buku yang disitasi atau dijadikan referensi dalam membuat suatu karya tulis ilmiah.

2. Menabung 

Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit, pepatah yang ibu saya tanamkan semenjak TK. Saya dan adik dibelikan celengan ayam dari tanah liat yang setiap jelang lebaran dipecahkan bersama-sama. Meski menabung receh ada kepuasan sendiri bisa membeli benda yang diinginkan dari hasil tabungan sendiri.

Ketika dewasa, kebiasaan menabung ini tetap saya lanjutkan dan berusaha mengajarkannya pula ke anak-anak di rumah. Bahkan kami sekeluarga  punya tabungan liburan yang di setiap akhir tahun dibuka dan bersama-sama menentukan destinasi liburannya. Seru!

3. Berdoa 

Beribadah memang dilakukan pada setiap harinya, termasuk berdoa. Namun di antara doa-doa itu sejak zaman sekolah saya sudah menyelipkan doa untuk kehidupan di masa depan. 

Siapa sangka hasil becandaan bersama teman sebangku di SMA tentang usia menikah kami kelak, membawa saya pada doa ingin menikah di usia 23, dan Alhamdulillah diijabah, tepatnya di usia 22 tahun 9 bulan.

Dulu saya juga berdoa agar punya suami yang tidak merokok, penyayang, sayang sama saya dan anak-anak, mertua dan adik-adik ipar, saleh, dan kalau bisa yang good looking agar nantinya anak-anak kami ganteng dan cantik. 

Masyaallah, semua itu terkabul, doa rutin yang sejak lama saya bisikkan di tiap akhir salat.

4. Senyum dan Bersikap Ramah

Saya menyadari default-nya wajah saya itu bukan yang wajah ramah cerah ceria. Perlu sedikit usaha untuk membuat orang lain tidak mendapatkan kesan jutek dan judes. 

Maka sekalian mengamalkan hadis Rasulullah SAW, senyum di depan saudaramu adalah sedekah, saya pun beusaha jadi orang yang murah senyum dan bersikap ramah.

Murah senyum tidak identik dengan senyum pada siapa saja, tetap sesuai dengan norma agama, kesopanan, dan kesusilaan. 

Tidak senyum-senyum pada yang bukan mahram atau suami orang tanpa konteks dan keperluan, diutamakan tersenyum pada sesama perempuan, senyum pada orang papasan di jalan pasti berbeda kadarnya dengan senyum saat ketemu sahabat. 

Hal sederhana seperti ini sebenarnya seperti becermin. Ketika saya tersenyum dan bersikap ramah pada lawan bicara, maka saya pun mendapatkan hal serupa. 

Dan seterusnya hal ini sangat positif dalam membangun hubungan apapun dalam hidup.

5. Hemat Energi

Hemat energi dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mematikan lampu jika ruangan tidak digunakan, menampung air wudu untuk menyiram tanaman, membuat daftar belanjaan agar tidak menghabiskan uang secara impulsif, tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan, dan masih banyak lagi.

Budaya hemat energi ini jika dilakukan tiap orang di dunia, mempunyai efek domino yang dahsyat. Semua orang turut melestarikan lingkungan dan menjaga keberlangsungan hidup di bumi.

6. Belajar Hal Baru

Menjadi manusia pembelajar sangat menyenangkan. Semakin belajar hal baru maka semakin terasa ternyata kita belum ada apa-apanya. Benarlah kata-kata bijak yang mengatakan:
Di atas langit masih ada langit dan langit tak pernah mengatakan bahwa ia tinggi. Sebagaimana samudera tak pernah mengatakan bahwa ia sangatlah dalam.

 

Belajar hal baru membuatmu awet muda, dalam hal ini bukan tampilan fisik karena itu hanya casing saja. Belajar lagi dan lagi membuat pikiran menjadi lebih dinamis, terbuka, menghargai perbedaan, dan memiliki jiwa muda. 

Hal ini memengaruhi pola pikir hingga ke depannya. Dalam mengambil keputusan, bisa lebih bijaksana dan mampu mengakomodasi hal-hal yang berkembang.

7. Minum Air Putih Minimal 8 Gelas Per Hari

Minum air putih bagi sebagian orang kadang-kadang masih menjadi hal yang terlupakan. Padahal dengan mengonsumsi air putih secara teratur minimal 2 liter atau setara 8 gelas per hari, tubuh terhindar dari kondisi dehidrasi.

Hal sederhana beri pengaruh besar dalam hidup
Sumber: Era[dot]id

Seperti saat menuliskan artikel ini di samping saya sudah tersedia botol air minum ukuran 2,2 liter. Saya siapkan agar di setiap aktivitas tidak luput menghidrasi tubuh dengan air putih bening ini. 

Tampak sangat sederhana, cuma minum air putih sering-sering saja mampu membuat badan lebih sehat.  

Tak apa kalau harus bolak-balik ke toilet, pilih mana dari sekarang mondar-mandir ke kamar mandi atau di masa depan harus rutin cuci darah, hiks. 

Semoga yang sakit diringankan sakitnya, dan yang sehat makin segar bugar dan dimudahkan dalam melaksanakan kegiatannya sehari-hari. Amin.

Kesimpulan

Demikianlah 7 hal sederhana yang ternyata memberikan pengaruh besar dalam hidup saya, yaitu membaca sebelum tidur, menabung, berdoa, senyum bersikap ramah, hemat energi, dan minum air putih minimal 8 gelas per hari secara rutin.

Salam semangat!




Pentingnya Adab Sebelum Ilmu

Pentingnya adab sebelum ilmu bagi siapapun yang berstatus pelajar, santri, mahasiswa, pembelajar di strata berapa pun. Sebab tanpa adab maka tak akan pernah sampai kepada ilmu yang benar. 

Membahas topik adab sebelum ilmu ini saya membuka kembali kitab lama zaman nyantri di pesantren dahulu. Kitab kuning populer bagi pemula mengenai adab menuntut ilmu, Ta'limul Muta'allim karya ulama besar dari Arab, Syeikh Burhanuddin Az Zarnuji.

Dulu saya pelajari di kelas I'dadiy (setara kelas 1) di Pondok Pesantren Aji Mahasiswa Al Muhsin, Krapyak Wetan, Yogyakarta. Pagi dan malam belajar kitab kuning, siang hingga sore kuliah di UGM. Mudah-mudahan sebagai ikhtiar meraih ilmu pengetahuan duniawi namun tak melupakan ilmu agama untuk kebaikan dunia dan akhirat.


adab sebelum ilmu


Kitab tersohor ini dialihbahasakan oleh KH. Aliy As'ad (Alm.) pengasuh Pondok Pesantren Nailul Ula, Sleman, Yogyakarta. Meski di kelas belajar menerjemahkan tulisan arab gundul Arab Pegon (Jawa), namun saya merasa waktu belajar secara sorogan (belajar langsung dengan Pak Kyai) sangat kurang. 

Ditambah mesti mengerjakan tugas-tugas kuliah pada malam harinya. Akhirnya saat main ke toko buku saya melihat ada buku terjemahan Ta'lim Muta'allim ini di lapak buku. Mata saya berbinar melihatnya, langsung saya beli dan simpan hingga kini. Merasa ketemu harta karun!

Adab Ibarat Jalan Menuju Ilmu

Menurut KH. Aliy As'ad dalam komentarnya di dalam buku terjemahan buku ini, adab itu ibarat jalan menuju ilmu pengetahuan. Berbeda dengan yang saya ketahui selama ini, al adabu fauqol 'ilm, adab itu di atas ilmu atau adab sebelum ilmu. 
Adab itu Di Atas Ilmu

Dikisahkan bahwa sahabat sekaligus menantu Rasulullah SAW, Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah (KW), suatu waktu telat salat berjamaah di masjid. Pasalnya ia tidak ingin mendahului seorang tua renta yang berjalan lambat di depannya. 

Ternyata setelah tiba di depan masjid kakek tua itu tidak berbelok ke baitullah itu, namun lurus saja. Belakangan diketahui bahwa ia penganut Nasrani. Qadarullah, Ali tidak terlambat salat berjamaah, imam tetap rukuk dan matahari tidak beranjak dari tempatnya. 

Demikianlah penghormatan terhadap adab, hingga Imam Malik Rahimahullah mengatakan:
Orang berilmu belum tentu beradab, namun orang beradab sudah pasti berilmu

Menyambung penjelasan dalam buku Bimbingan Bagi Para Penuntut Ilmu, adab adalah jalan kepada ilmu.  


Keliru Mengambil Jalan Maka Keliru Tujuan

Jika kamu ingin ke Medan naik pesawat terbang dari Jakarta, namun harus transit di negara Malaysia, lalu setelah itu naik pesawat berikutnya ke Medan, itu sudah benar. Hanya saja untuk sampai ke kota di dalam negeri sendiri masa' sih harus singgah keluar negeri dulu.

Rutenya bisa menempuh langsung pesawat Jakarta-Medan. Namun kedua-duanya bisa mengantarkan kamu ke kota Medan, kan. Sudah benar. Tetapi jika kamu membeli tiket ke Makassar, maka jalan yang kamu ambil keliru. Kamu tetap berhasil menaiki pesawat terbang, sampai ke kota lain, namun itu bukan Medan. Maka tujuan tidak tercapai. Kira-kira begitu analoginya.

Kuasai dengan baik jalan menuju pada kesuksesan orang-orang berilmu barulah menuntut ilmunya. Jika tidak, alamat diri akan tersesat, tak pernah sampai ke tujuan.

Maka menempuh jalan yang tepat adalah suatu keharusan dalam menuntut ilmu. Jangan abaikan jalan jika ingin tiba di tujuan yang diinginkan sesuai harapan. Ingin meraih doktor namun tak kunjung menapaki jalan menuju ke sana, maka yang ada hanyalah angan-angan belaka.

Bagaikan Keledai Memikul Beban

Perumpamaan orang yang berilmu namun tidak punya adab bagaikan keledai memikul beban berat di punggungnya. Ia hanya sebagai penanggung beratnya barang-barang di punggung tanpa memperoleh manfaat apapun bagi otaknya. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam Alquran Surat Al Jumu'ah (62) ayat 5, meski tidak sama persis kalimatnya.

Ahli ilmu yang berjilid-jilid kitab dalam kepalanya namun tiada adab tertanam dalam sikap dan lisannya, maka sia-sialah semuanya. Malah menyeret pada kehinaan.  

Ada pesan ibunda Malik bin Anas ketika pamit akan pergi menuntut ilmu kepada Rabi'atur Ra'yi, seorang cendekiawan ternama di masa itu, yang menjadi tujuan utama para penuntut ilmu di zamannya.

"Nak, jika kau sudah bertemu dengan Rabi'atur Ra'yi, pelajari adabnya. Jika tak kau jumpai adab dalam dirinya, maka tidak perlu kau buang-buang waktu belajar padanya."

Sungguh, tak akan bermanfaat ilmu setinggi apapun, jika tidak ada adab di dalamnya. Parahnya lagi jika ilmu hanya setitik nila plus tiada adab. 

Hal-hal ini harus diperhatikan dalam adab menuntut ilmu:

  1. Niat menuntut ilmu
  2. Memilih teman yang rajin
  3. Tabah dalam belajar
  4. Memuliakan ilmu dan guru yang mengajarnya
  5. Sungguh-sungguh dalam meraih cita-cita
  6. Belajar secara terus menerus
  7. Mengorbankan sebagian harta untuk meraih ilmu
  8. Mengurani makan untuk belajaryang lebih efektif
  9. Menghindari perdebatan tanpa ujung
  10. Menguatkan hafalan dan pemahaman

Sebenarnya masih banyak lagi poin-poin yang bisa disarikan dari kitab Ta'limum Muta'allim, namun biarlah yang sedikit ini menjadi pengingat saya untuk teguh di jalan yang tepat menuntut ilmu. 

Kesimpulan

Pentingnya adab sebelum ilmu sangat berpengaruh dalam kesuksesan seorang pembelajar. Adab itu ibarat jalan menuju sukses. Jika adabmu baik maka kau akan sampai di tujuan yang benar sebagaimana yang dicita-citakan.

Jangan berhenti belajar, teruslah berenang di samudera keilmuan hingga tiba ke tepi impian orang-orang berilmu sekaligus berakhlak.

Salam pembelajar

















Menjadi Pejuang Scopus

Memasuki semester 2 kuliah di jenjang S3 di salah satu PTN BH (Badan Hukum) di daerah saya, Program Studi Doktor Ilmu Hukum (PDIH) menetapkan tidak ada ujian tertulis pada UTS dan UAS. Sebagaimana yang diterapkan pada semester gasal lalu. 

Sebagai gantinya, kami diwajibkan menulis karya ilmiah berupa paper yang dimuat di jurnal internasional terindeks Scopus, minimal Q3 (Quartile 3). Duh, auto tidak bisa tidur saya memikirkannya. Karena yang tidak berhasil mempublikasikan papernya di semester genap ini tidak akan dapat nilai. 

Pantang Menyerah

Ya, itulah saya. Meski berstatus istri dan ibu empat orang anak, dosen, sedang mengemban amanah jabatan struktural pula yaitu Kabag. Hukum Perdata (setara Kajur), saya memberanikan diri melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor.

Kuliah S3 di PTN tidaklah main-main. Berbeda dengan strata S2 dulu rasanya materinya masih bisa dipahami sambil momong anak. Dulu saya S2 di usia 27 tahun, dengan pengalaman baru 5 tahun jadi dosen. Dikover beasiswa penuh dari Dikti pula.

world class university
Saya dkk sekelas, no. 10 dari kanan / Dokpri

Nah, sekarang dengan usia genap 40 tahun saya lanjut S3 belum rezeki lolos Beasiswa Unggulan (BU) Kemdikbudristek tahun lalu. Berharap sekali bisa lulus beasiswa on-going di tahun ini. Agar ada sedikit kelapangan dana untuk biaya kuliah.

Jangan ditanya mengapa baru sekarang sih Mbak, lanjut doktornya. Ini dulu bagi saya sama seperti menanyakan kapan menikah pada gadis yang baru lulus S1. Atau kapan nambah anak lagi bagi ibu muda yang baru saja melahirkan. Dan lain-lain.

Timeline tiap orang itu berbeda-beda. Barrack Obama pensiun dari jabatan presiden AS di usia 55 tahun. Sementara Donald Trump penerusnya justru baru menjadi presiden di usia 70 tahun. See, terbukti usia hanyalah angka. Kekuatan mental dan kemauan untuk maju terus yang akan menentukan masa depan seseorang. Future is bought by present.

Di saat usia 'sangat layak lulus beasiswa doktor' begitu saya menyebutnya, beberapa tahun lalu saya sedang berkhidmat benar-benar nurut apa kata suami. Beliau belum rida saya apply beasiswa ya saya menahan diri selama bertahun-tahun lamanya. 

Alhamdulillah doa saya di setiap bulan Ramadan agar Allah SWT melunakkan hatinya, akhirnya diijabah di tahun 2021 lalu. Dia no comment saat saya membujuk rayu agar mengizinkan saya kuliah lagi. Dengan berbagai S&K akhirnya izin itu turun. Tak terkatakan betapa bersyukur dan gembiranya saya. 

Namun saat email masuk dari Puslapdik Kemdikbudristek bahwa saya tidak lulus BU, seakan kembali menyurutkan sedikit semangat.  Berpikir keras ke mana biaya akan dipenuhi. Tetapi Alhamdulillah ada saja rezeki datang dari Ar Razzaq, Sang Maha Pemberi Rezeki. Yang kuasa-Nya seluas langit dan bumi serta dengan segala isinya. Kendati demikian saya tetap akan berjuang melamar kembali beasiswa lanjutan.

Ada saja yang perlu dibayar selain SPP tiap semesternya. Bukan dari prodi atau universitas, tetapi dari kebutuhan pelengkap materi kuliah. Seperti uang fotokopi hingga Rp. 880 ribu, beli buku hingga Rp. 1 jutaan, biaya submit artikel ke jurnal Scopus kurang lebih Rp. 12 juta, bayar proofreader Rp. 900-an ribu, dan tentunya masih ada lagi.

Bukankah banyak aplikasi buku digital di zaman sekarang ini, ada yang gratis pula. Ada buku teks lawas rekomendasi dari profesor yang berbahasa asing, pangkal literatur pula. Mau tidak mau harus di-copy agar mudah mempelajarinya dan sebagai rujukan menulis disertasi nantinya.

Manajemen Waktu

Selain pantang menyerah, keunggulan saya mungkin di manajemen waktu. Mengapa saya tetap ikutan Tridop (Three Days One Post) ISB (Indonesian Social Blogpreneur), karena saya merasa keseriusan membaca banyak abstrak artikel jurnal tetap harus dibarengi dengan menulis blog.

Berbeda dengan menonton drama Korea, meski saya jelas terhibur namun tak seproduktif posting artikel blog. Maka tadi setelah saya seharian menyeimbangkan urusan kerjaan kampus dengan rumah tangga. Syukurnya hari ini bisa WFH sebab Medan banjir di mana-mana, akses jalan ke kampus belum sepenuhnya diketahui aman, kabarnya sih sudah normal kembali.

Manajemen waktu sangat dibutuhkan untuk membantu efektivitas dan efisiensi seluruh pekerjaan saya. Baik mengurus keluarga, menduduki jabatan di kampus, menjalankan tugas fungsional sebagai dosen, dan memenuhi komponen tugas-tugas kuliah S3.

Dalam laman Instagramnya, Ditjen Dikti merilis 4 (empat) hal yang harus dimiliki seorang mahasiswa (di strata apapun menurut saya), agar berhasil lulus tepat waktu:

  1. Komitmen
  2. Prioritas
  3. Proaktif
  4. Manajemen Waktu
Nah, masuk kan si manajemen waktu tuh, apapun ceritanya keseharian kalau tidak dimanajeri dengan baik akan tersia-siakan dan berakhir dengan scrolling down TikTok. Btw, akun TikToknya @cerdasberkarakter asyik banget!

Selalu Melihat Sisi Positif

Saya berusaha senantiasa mencari sisi positif dari keadaan terburuk sekalipun. Saya tak mau menyalahkan diri sendiri. Sedari remaja sepertinya sudah cukuplah jadi pribadi yang sensi, baperan, mudah tersinggung. 

Setelah menikah, setiap hari berdiskusi dengan suami, memiliki satu demi satu putra-putri, menjalani 17 tahun karir sebagai dosen, saya kira lumayanlah memberikan seberapa pengalaman buat saya. Meskipun saya tak pernah merasa sudah jadi orang yang pintar. 

Katanya, lebih baik jadi orang yang pintar merasa ketimbang merasa pintar. 

Jadi kalau sekretaris prodi pernah seperti ngamuk-ngamuk di depan kami karena bertanya dengan berulang terus untuk mengonfirmasi sesuatu, saya pun mencari sisi positif dari pengalaman ini. 

Tak semua orang berada dalam frekuensi yang sama di waktu yang sama pula. Mungkin karena tuntutan pekerjaan, tekanan hidup, dan sebagainya membuat reaksi yang ditampakkan menjadi blunder. 

Saya menginstrospeksi diri, sama saja kan ketika mendapati pesan singkat mahasiswa di aplikasi obrolan yang bolak-balik bertanya hal yang sama berkali-kali, rasanya ingin blokir nomornya. Namun lebih baik saya segera beralih ke hal lainnya. Cepat letakkan ponsel dan main sama anak. Senyuman  tulus yang kita hadiahkan buat anak ternyata melegakan pikiran.

Kesimpulan

Menjadi pejuang Scopus adalah keluar dari zona nyaman selama ini. 158 artikel blog yang saya posting sepanjang tahun 2021 lalu memberikan kebahagiaan buat saya. Beberapa tautan artikel jurnal terindeks Google Scholar dan SINTA 3 sudah saya hasilkan. Dua prosiding internasional yang telah publish namun belum indexed by Scopus ataupun WOS. 

membaca hard copy disertasi
Doakan saya ya, Teman-teman ^^

Perjalanan masih panjang, namun saya insyaallah akan tetap berjuang. Mencoba lagi seleksi beasiswa meski tahun ini on-going dan usia saya maksimal, yaitu empat puluh tahun. Saingannya dosen-dosen muda di bawah saya. Pantang menyerah, manajemen waktu, dan selalu positive thinking, akan membantu saya menggapai cita meraih kesuksesan.

Salam pejuang jurnal Scopus