Menjadi Pejuang Scopus

Memasuki semester 2 kuliah di jenjang S3 di salah satu PTN BH (Badan Hukum) di daerah saya, Program Studi Doktor Ilmu Hukum (PDIH) menetapkan tidak ada ujian tertulis pada UTS dan UAS. Sebagaimana yang diterapkan pada semester gasal lalu. 

Sebagai gantinya, kami diwajibkan menulis karya ilmiah berupa paper yang dimuat di jurnal internasional terindeks Scopus, minimal Q3 (Quartile 3). Duh, auto tidak bisa tidur saya memikirkannya. Karena yang tidak berhasil mempublikasikan papernya di semester genap ini tidak akan dapat nilai. 

Pantang Menyerah

Ya, itulah saya. Meski berstatus istri dan ibu empat orang anak, dosen, sedang mengemban amanah jabatan struktural pula yaitu Kabag. Hukum Perdata (setara Kajur), saya memberanikan diri melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor.

Kuliah S3 di PTN tidaklah main-main. Berbeda dengan strata S2 dulu rasanya materinya masih bisa dipahami sambil momong anak. Dulu saya S2 di usia 27 tahun, dengan pengalaman baru 5 tahun jadi dosen. Dikover beasiswa penuh dari Dikti pula.

world class university
Saya dkk sekelas, no. 10 dari kanan / Dokpri

Nah, sekarang dengan usia genap 40 tahun saya lanjut S3 belum rezeki lolos Beasiswa Unggulan (BU) Kemdikbudristek tahun lalu. Berharap sekali bisa lulus beasiswa on-going di tahun ini. Agar ada sedikit kelapangan dana untuk biaya kuliah.

Jangan ditanya mengapa baru sekarang sih Mbak, lanjut doktornya. Ini dulu bagi saya sama seperti menanyakan kapan menikah pada gadis yang baru lulus S1. Atau kapan nambah anak lagi bagi ibu muda yang baru saja melahirkan. Dan lain-lain.

Timeline tiap orang itu berbeda-beda. Barrack Obama pensiun dari jabatan presiden AS di usia 55 tahun. Sementara Donald Trump penerusnya justru baru menjadi presiden di usia 70 tahun. See, terbukti usia hanyalah angka. Kekuatan mental dan kemauan untuk maju terus yang akan menentukan masa depan seseorang. Future is bought by present.

Di saat usia 'sangat layak lulus beasiswa doktor' begitu saya menyebutnya, beberapa tahun lalu saya sedang berkhidmat benar-benar nurut apa kata suami. Beliau belum rida saya apply beasiswa ya saya menahan diri selama bertahun-tahun lamanya. 

Alhamdulillah doa saya di setiap bulan Ramadan agar Allah SWT melunakkan hatinya, akhirnya diijabah di tahun 2021 lalu. Dia no comment saat saya membujuk rayu agar mengizinkan saya kuliah lagi. Dengan berbagai S&K akhirnya izin itu turun. Tak terkatakan betapa bersyukur dan gembiranya saya. 

Namun saat email masuk dari Puslapdik Kemdikbudristek bahwa saya tidak lulus BU, seakan kembali menyurutkan sedikit semangat.  Berpikir keras ke mana biaya akan dipenuhi. Tetapi Alhamdulillah ada saja rezeki datang dari Ar Razzaq, Sang Maha Pemberi Rezeki. Yang kuasa-Nya seluas langit dan bumi serta dengan segala isinya. Kendati demikian saya tetap akan berjuang melamar kembali beasiswa lanjutan.

Ada saja yang perlu dibayar selain SPP tiap semesternya. Bukan dari prodi atau universitas, tetapi dari kebutuhan pelengkap materi kuliah. Seperti uang fotokopi hingga Rp. 880 ribu, beli buku hingga Rp. 1 jutaan, biaya submit artikel ke jurnal Scopus kurang lebih Rp. 12 juta, bayar proofreader Rp. 900-an ribu, dan tentunya masih ada lagi.

Bukankah banyak aplikasi buku digital di zaman sekarang ini, ada yang gratis pula. Ada buku teks lawas rekomendasi dari profesor yang berbahasa asing, pangkal literatur pula. Mau tidak mau harus di-copy agar mudah mempelajarinya dan sebagai rujukan menulis disertasi nantinya.

Manajemen Waktu

Selain pantang menyerah, keunggulan saya mungkin di manajemen waktu. Mengapa saya tetap ikutan Tridop (Three Days One Post) ISB (Indonesian Social Blogpreneur), karena saya merasa keseriusan membaca banyak abstrak artikel jurnal tetap harus dibarengi dengan menulis blog.

Berbeda dengan menonton drama Korea, meski saya jelas terhibur namun tak seproduktif posting artikel blog. Maka tadi setelah saya seharian menyeimbangkan urusan kerjaan kampus dengan rumah tangga. Syukurnya hari ini bisa WFH sebab Medan banjir di mana-mana, akses jalan ke kampus belum sepenuhnya diketahui aman, kabarnya sih sudah normal kembali.

Manajemen waktu sangat dibutuhkan untuk membantu efektivitas dan efisiensi seluruh pekerjaan saya. Baik mengurus keluarga, menduduki jabatan di kampus, menjalankan tugas fungsional sebagai dosen, dan memenuhi komponen tugas-tugas kuliah S3.

Dalam laman Instagramnya, Ditjen Dikti merilis 4 (empat) hal yang harus dimiliki seorang mahasiswa (di strata apapun menurut saya), agar berhasil lulus tepat waktu:

  1. Komitmen
  2. Prioritas
  3. Proaktif
  4. Manajemen Waktu
Nah, masuk kan si manajemen waktu tuh, apapun ceritanya keseharian kalau tidak dimanajeri dengan baik akan tersia-siakan dan berakhir dengan scrolling down TikTok. Btw, akun TikToknya @cerdasberkarakter asyik banget!

Selalu Melihat Sisi Positif

Saya berusaha senantiasa mencari sisi positif dari keadaan terburuk sekalipun. Saya tak mau menyalahkan diri sendiri. Sedari remaja sepertinya sudah cukuplah jadi pribadi yang sensi, baperan, mudah tersinggung. 

Setelah menikah, setiap hari berdiskusi dengan suami, memiliki satu demi satu putra-putri, menjalani 17 tahun karir sebagai dosen, saya kira lumayanlah memberikan seberapa pengalaman buat saya. Meskipun saya tak pernah merasa sudah jadi orang yang pintar. 

Katanya, lebih baik jadi orang yang pintar merasa ketimbang merasa pintar. 

Jadi kalau sekretaris prodi pernah seperti ngamuk-ngamuk di depan kami karena bertanya dengan berulang terus untuk mengonfirmasi sesuatu, saya pun mencari sisi positif dari pengalaman ini. 

Tak semua orang berada dalam frekuensi yang sama di waktu yang sama pula. Mungkin karena tuntutan pekerjaan, tekanan hidup, dan sebagainya membuat reaksi yang ditampakkan menjadi blunder. 

Saya menginstrospeksi diri, sama saja kan ketika mendapati pesan singkat mahasiswa di aplikasi obrolan yang bolak-balik bertanya hal yang sama berkali-kali, rasanya ingin blokir nomornya. Namun lebih baik saya segera beralih ke hal lainnya. Cepat letakkan ponsel dan main sama anak. Senyuman  tulus yang kita hadiahkan buat anak ternyata melegakan pikiran.

Kesimpulan

Menjadi pejuang Scopus adalah keluar dari zona nyaman selama ini. 158 artikel blog yang saya posting sepanjang tahun 2021 lalu memberikan kebahagiaan buat saya. Beberapa tautan artikel jurnal terindeks Google Scholar dan SINTA 3 sudah saya hasilkan. Dua prosiding internasional yang telah publish namun belum indexed by Scopus ataupun WOS. 

membaca hard copy disertasi
Doakan saya ya, Teman-teman ^^

Perjalanan masih panjang, namun saya insyaallah akan tetap berjuang. Mencoba lagi seleksi beasiswa meski tahun ini on-going dan usia saya maksimal, yaitu empat puluh tahun. Saingannya dosen-dosen muda di bawah saya. Pantang menyerah, manajemen waktu, dan selalu positive thinking, akan membantu saya menggapai cita meraih kesuksesan.

Salam pejuang jurnal Scopus 





No comments